Dugaan Sabotase Tidak Mendasar Dalam Kebakaran Kantor Setneg

Kebakaran hebat terjadi di Kantor Sekretariat Negara, Kamis (21/3) sore. Kebakaran terjadi disaat dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan beberapa menteri sedang melaksanakan rapat kabinet  terbatas membahas mengenai rencana kerja pemerintah tahun kerja 2014. Kebakaran yang terjadi sekitar pukul 17.00 WIB menghanguskan isi gedung yang berad a di lantai tiga Kantor Sekretariat Negara, Kompleks Istana Kepresidenan yang sempat menganggu jalannya rapat kabinet yang dipimpin SBY.

Sempat muncul dugaan adanya sabotase dikaitkan dengan kondisi fluktuatif politik keamanan saat ini adanya rencana upaya penggulingan pimpinan nasional. Tudingan adanya sabotase dibantah langsung oleh Menkopolhukam, Djoko Suyanto yang  meminta kepada semua pihak agar tidak berpikir negatif dengan mengaitkan unsur sabotase dalam kebakaran kantor Setneg.

Pihak Setneg melalui Sekretaris Menteri Sekretaris Negara, Lambok V Nahattands saat jumpa pers di Gedung I Setneg, meluruskan informasi yang beredar ke publik dengan mengatakan bahwa dugaan kebakaran akibat korluiting listrik di lantai tiga. Ruangan Menteri Sekretaris Negara, Sudi SIlalahi dan apra staf di lantai dua dalam kondisi aman, termasuk dokumen dan berkas penting lainnya dalam kondisi baik dan tidak ada yang hancur atau rusak. Ruangan di lantai tiga yang terbkar merupakan ruang rapat yang jarang digunakan dan hanya sesekali digunakan untuk sidang kabinet. Kondisi ruang rapat selalu sepi.

Terlalu gampang bila publik terjerat dengan isu sumir mengenai adanya upaya sabotase dalam kebakaran tersebut. Adanya indikasi yang menjurus kearah sengaja, hendaknya harus dilakukan pendalaman dengan mengumpulkan bukti valid.

Berbicara sedikit mengenai sabotase untuk memberikan gambaran dari opini penulis bahwa sabotase  itu seperti hal yang tidak masuk akal dilakukan  terkait kebakaran di Setneg. Mengutip buku Intelijen, Teori, Aplikasi dan Modernisasi karangan Wahyu Saronto, sabotase merupakan salah satu teknik penggalangan yang merupakan upaya untuk menciptakan suatu keadaan yang diharapkan oleh sponsor.Sabotase adalah bagian didalamnya yang merupakan suatu kegiatan yang dilaksanaan dengan sengaa, terencana, dan tersembunyi dengan tujuan untuk menghancurkan, merusak, melumpuhkan sasaran berupa instalasi vital di daerah sasaran. Dampak dari kerusakan yang diakibatkannya dapat menimbulkan kerugian di bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, teknologi, pertahanan dan keamanan. Ditambahkan lagi merujuk dokumen CentraI Intelligence Agency (CIA) mengenai buku manual sabotase sederhana yang menekankan bahwa jenis sabotase berdasarkan tekniknya membutuhkan aksi yang luar biasa dengan didukung detail perencanaan dan pelatihan khusus di lapangan. Sabotase dapat dilakukan dalam situasi khusus seperti masa perang atau terkait dengan kegiatan militer seperti menyerang musuh dan sebainya.

Mengacu dengan penjelasan singkat tersebut, sangat tidak mungkin apabila terjadi sabotase seperti yang dihembuskan oleh anggota DPR dari Komisi Hukum DPR, Desmond J Mahesa dan  Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia (MKRI) Ahie M Massardi yang mencurigai gedung Setneg biasanya dijadikan tempat penyimpanan dokumen penting negara. Adanya upaya pemusnahan dan penghilanagn dokumen penting terkait dengan kebijakan pemerintah SBY yang salah.

Sabotase sudah tidak relevan digunakan dalam situasi saat ini dengan mengacu dampak yang ditimbulkannya dan juga dimensi waktu yang digunakan. Sabotase merupakan jawaban kebuntuan dari kejadian tersebut karena publik ingin mendapatkan informasi dengan cepat mengenai keingintahuan penyebab kebakaran tersebut. Sudah jelas bahwa dokumen dan arsip lainnya masih dalam kondisi aman dan tidak rusak, jadi dugaan pemusnahan dan penghilangan dokumen itu tidak terbukti.

Dugaan sabotase terlalu cepat dan tidak mendasar, belum adanya pendalaman yang dilakukan oleh pihak forensik Mabes Polri dalam mencari sumber kebakaran. Kebakaran di sekitar kompleks istana sebaiknya tidak digeneralisir menjadi isu lainnya. Tetaplah berpikir positif bahwa kebakaran sebagai sebuah pelajaran dan masukan bagi pejabat negara dalam memperbaiki sistem dalam ring istana menjadi obyek vital.

Pengamanan material yang didalamnya terdapat pengamanan  fisik seperti bangunan, dokumen dan lain sebagainya perlu mendapat prioritas lebih dibanding dengan yang lainya. Penyebab kebakaran harus segera ditemukan untuk segera ditindaklanjuti dengan audit terhadap kerawanan dan kelemahan dalam ring satu istana. Perbaikan menyeluruh harus terhadap perawatan dan pengecekan terhadap setiap Gedung Pemerintahan dapat menangkis isu miring seperti yang terjadi dalam kebakaran di kantor Setneg  yang dinilai sangat objek vital strategis. Gedung Setneg banyak  menyimpan arsip/dokumen yang berharga bagi negara dan terletak di lingkungan halaman istana negara atau dapat dikatakan halaman depan citra sebuah negara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s